Menyalakan Pelita di Ujung Selatan: Ketulusan Hati Djamaluddin, S.Pd., Nakhoda SDN No. 100 Palalakkang

IMG-20261015-WA0187

 

Di tengah dinamika dunia pendidikan modern yang kerap terjebak dalam pusaran gengsi, sertifikasi, dan orientasi material, masih ada sosok-sosok “orang pinggiran” yang memilih berjalan di jalur sunyi: jalur pengabdian murni. Di Kabupaten Takalar, tepatnya di Galesong, berdirilah sebuah sekolah dasar negeri yang perlahan menampakkan geliat kemajuan. Di baliknya, ada seorang pria paruh baya yang mendedikasikan napas dan langkahnya untuk dunia pendidikan—Djamaluddin, S.Pd., Kepala UPT SPF SD Negeri No. 100 Palalakkang.

Bagi Djamaluddin, sekolah bukanlah sekadar tempat bertemunya guru dan murid, melainkan kawah candradimuka tempat peradaban masa depan ditempa. Sejak awal memegang tongkat estafet kepemimpinan di sekolah tersebut, ia membawa satu kompas moral yang kokoh: menjadi guru bukanlah soal mengejar status sosial, apalagi semata-mata menumpuk materi.

Guru: Panggilan Jiwa, Bukan Sekadar Profesi

Prinsip hidup Djamaluddin sangat sederhana namun berbobot karang. Di saat sebagian orang melihat status Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau jabatan kepala sekolah sebagai simbol kebanggaan status sosial di masyarakat, Djamaluddin justru melihatnya sebagai beban moral yang amat berat di hadapan Sang Pencipta dan anak-anak bangsa.

“Guru adalah pengabdian,” begitu kalimat yang sering ia tanamkan kepada para dewan guru di SDN No. 100 Palalakkang.

Bagi pria yang akrab disapa Pak Djamal ini, materi bisa dicari, jabatan bisa berganti, tetapi kepuasan batin melihat seorang anak yang tadinya tidak tahu apa-apa, lalu menjadi cerdas, santun, dan berakhlak mulia, adalah bentuk kekayaan yang tak ternilai harganya. Prinsip inilah yang ia tularkan kepada lingkungan sekitarnya. Ia ingin para guru di sekolahnya tidak datang ke kelas karena kewajiban administratif semata, melainkan datang dengan cinta kasih seorang orang tua kepada anak-anaknya.

Membangun Sekolah dari Hati

Memimpin SD Negeri No. 100 Palalakkang bukanlah tanpa tantangan. Seperti kebanyakan sekolah di daerah, berbagai keterbatasan fasilitas dan tantangan geografis kerap menjadi batu sandungan. Namun, di tangan Djamaluddin, keterbatasan tidak pernah dijadikan alasan untuk berhenti berinovasi.

Dengan pendekatan humanis, ia merangkul para guru, komite sekolah, dan orang tua murid untuk bahu-membahu. Ia percaya bahwa kemajuan sekolah tidak akan pernah tercapai jika kepala sekolah hanya duduk di ruang kerja mengeluarkan instruksi. Djamaluddin adalah tipe pemimpin lapangan. Ia turun tangan langsung, mendengar keluh kesah guru, memotivasi siswa yang kurang percaya diri, hingga memastikan lingkungan belajar bersih dan nyaman.

Di bawah kepemimpinannya, sekolah tidak hanya berorientasi pada nilai rapor yang tinggi (kognitif), tetapi jauh lebih penting dari itu: pendirian karakter. Ia sadar bahwa kecerdasan intelektual tanpa dibarengi akhlak yang luhur hanya akan melahirkan generasi yang cerdik namun merusak. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai kejujuran, sopan santun, dan keagamaan menjadi menu wajib dalam keseharian siswa di sekolah tersebut.